Minggu, 16 September 2012




GANGGUAN SIKLUS HAID

Menstruasi adalah proses peluruhan dindingendometrium pada uterus akibat sel ovum tidak dibuahi. Proses menstruasi ini merupakan hal yang fisiologis. Namun proses menstruasi ini dapat mengalami beberapa gangguan.
1.  Kelainan tentang banyak dan lama perdarahan
a.  Hipermenorea
Merupakan proses pengeluaran darah yang terlalu banyak dan biasanya disertai adanya pembekuan darah pada saat menstruasi. Lama perdarahan lebih dari 8 hari. Adapun penyebabnya :
Ø Hypoplasia uteri
Ø Myoma uteri
Ø Hypertensi

b.  Hipomenorea
Siklus menstruasi tetap. Namun lama perdarahannya memendek kurang dari tiga hari. Hal ini diakibatkan kesuburan endometrium yang kurang hal ini disebabkan gizi penderita yang rendah serta gangguan hormonal.

2. Kelainan siklus haid
a.  Polimenorea
Haid sering datang sehingga siklus menstruasi memendek dari biasanya dan biasanya terjadi kurang dari 21 hari. Namun jumlah perdarahan relatif tetap.
Ø Apabila siklus pendek namun teratur disebabkan:
-       Stadium proliferasi pendek dapat menyebabkan infertilisasi
-       Stadium rekreasi pendek dapat menyebabkan infertilisasi

b.  Oligomenorea
Pemanjangan siklus menstruasi lebih dari 35 hari sedangkan jumlah perdarahan tetap sama. Hal ini terjadi karena adanya gangguan hormonal yang menyebabkan perpanjangan stadium folikuler dan stadium luteal. Hal ini juga dipengaruhi faktor psikis.

c.  Amenorea
Merupakan keadaan tidak datangnya haid selama 3 bulan berturut-turut atau lebih. Amenorea terbagi menjadi dua yaitu Amenorea Primer dan Amenorea Skunder

3. Perdarahan diluar haid
Metroragia merupakan perdarahan yang terjadi diluar siklus haid. Hal ini disebabkan kelainan hormonal dan kelainan organ genetalia.

4. Keadaan lain yang berkaitan dengan haid
a.  Ketegangan  Premenstruasi
Terjadi pada beberapa hari sebelum bahkan hingga proses menstruasi berlangsung. Adapun gejala yang di timbulkan :
Ø Gangguan emosional
Ø Sukar tidur, gelisah
Ø Perut kembung, mual bahkan muntah
Ø Payudara terasa tegang

b.  Mastodinia
Rasa tegang dan nyeri pada daerah payudara disebabkan hormon estrogen meningkat sehingga terjadi retensi air garam disertai hypermia didaerah payudara.

c.  Dismenorea
Merupakan rasa nyeri pada saat menstruasi pada bagian bawah tepatnya pada bagian abdomen. Nyeri ini dapat terjadi saat menstruasi bahkan sesudah menstruasi. Ada dua jenis dismenorea yaitu Dismenorea primer dan Dismenorea sekunder.

d.  Mittelschmerz
Rasa nyeri pada saat terjadinya ovulasi, bahkan sering diikuti perdarahan.

5. Kelainan pada usia datangnya menstruasi
a.  Menstruasi praecox
Peristiwa terjadinya menstruasi pada usia kandungan kurang dari 8-10 tahun.

b.  Pubertas Tarda
Dianggap terlambat jika gejala baru nampak pada usia 14-16 tahun. Hal ini disebabkan factor herediter, gangguan kesehatan dan kurang gizi.

Sabtu, 15 September 2012




Lanjutan:
HUBUNGAN PARITAS DAN STATUS GIZI IBU DENGAN
KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR)


Diagnosa
Menurut Winkjosastro (2006), menegakkan diagnosis BBLR adalah dengan mengukur berat lahir bayi dalam jangka waktu 1 jam setelah lahir, dapat di ketahui dengan dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

Komplikasi
1.   Hipotermia
Dalam kandungan, bayi berada dalam suhu lingkungan yang normal dan stabil yaitu 360C sampai dengan 370C. Segera setelah lahir bayi dihadapkan pada suhu lingkungan yang umumnya lebih rendah. Perbedaan suhu ini member pengaruh pada kehilangan panas tubuh bayi (Winkjosastro dkk, 2006)

2.   Hiperbilirubinemia
Hiperbilirubinemia adalah naiknya kadar bilirubin serum melebihi normal (≥ 5 mg/dl). Kadar bilirubin yang tinggi disebabkan karena fungsi hati yang belum matang, BBLR menjadi kuning/ikterus lebih awal dan lebih lama dari padaup bertanya (Winkjosastro, 2006)

3.  Hipoglikemia
Hipoglikemia merupakan salah satu indicator penting stress dan penyakit pada bayi. Hipoglikemia jika tidak di tangani dapat mengakibatkan kerusakan saraf permanen atau kematian. Hipoglikemia terjadi karena sedikitnya simpanan energi pada bayi baru lahir dengan BBLR membutuhkan ASI sesegera mungkin setelah lahir dan minum sangat sering (setiap 2 jam) pada minggu pertama (Winkjosastro dkk, 2006)

4.  Masalah pemberian ASI
Masalah pemberian ASI terjadi karena ukuran tubuh BBLR kecil, kurang energi, lemah, lambungnya kecil dan tidak dapat menghisap. BBLR membutuhkan pemberian ASI dalam jumlah yang lebih sedikit tetapi sering. BBLR dengan kehamilan ≥ 35 minggu dan berat lahir ≥ 2000 gram umumnya bisa langsung menetek (Winkjosastro dkk, 2006)

5.  Masalah perdarahan
Masalah perdarahan terjadi berhubungan dengan belum matangnya sistem pembekuan darah saat lahir (dalam 6 jam pertama) untuk semua bayi baru lahir dapat mencegah kejadian perdarahan ini (Winkjosastro dkk, 2006)

Penanganan
Menurut Winkjosastro (2006), mengingat belum sempurnanya kerja alat-alat tubuh untuk pertumbuhan dan perkembangan dan penyesuaian diri dengan lingkungan hidup diluar uterus maka perlu diperhatikan pengukuran penyesuaian diri dengan lingkungan hidup diluar uterus maka perlu diperhatiakn pengukuran suhu lingkungan, pemberian makanan dan bila perlu pemberian oksigen, mencegah infeksi, serta mencegah kekurangan vitamin dan zat besi.

Status gizi ibu hamil
Status gizi adalah keadaan tingkat kecukupan dan penggunaan satu nutrien atau lebih yang mempengaruhi kesehatan seseorang. Status gizi seseorang pada hakekatnya merupakan hasil keseimbangan antara konsumsi zat-zat makanan dengan kebutuhan dari orang tersebut (Lubis, 2003)

Kebutuhan gizi selama hamil
Kebutuhan gizi wanita hamil lebih besar bila dibandingkan dengan wanita yang tidak hamil dan tidak menyusui. Kebutuhan zat gizi tersebut adalah sebagai berikut:
a.   Energi
Kebutuhan tambahan energi yang dibutuhkan selama kehamilan adalah sebesar 300 kkal per hari, namun kebutuhan energi ini tidak sama pada setiap periode kehamilan (Prasetyono, 2009)
b.   Protein
Kebutuhan tambahan protein tergantung kecepatan pertumbuhan janinnya. Trimester pertama kurang dari 6 gram tiap hari sampai trimester dia. Trimester terakhir pada waktu pertumbuhan janin sangat cepat sampai 10 gram/hari (Prasetyono, 2009)
c.   Vitamin dan Mineral
Bagi pertumbuhan janin yang baik dibutuhkan berbagai vitamin dan mineral, diantaranya adalah:
1.   Vitamin A
5 fungsi vitamin A adalah memberikan kontribusi terhadap reaksi fotokimia dalam retina. Vitamin A juga dibutuhkan dalam sintesis glikoprotein, yang mendorong pertumbuhan dan diferensiasi sel, pembentukan tunas gigi dan pertumbuhan tulang (Prasetyono, 2009)
2.   Vitamin B
Vitamin B6 (Piridoksin) adalah ko-enzim yang dibutuhkan untuk metabolisme asam amino dan glikogen. Asupan janin yang cepat terhadap vitamin B6 dan meningkatnya asupan protein dalam kehamilan mengharuskan peningkatan asupan vitamin B6 dalam kehamilan (Prasetyono, 2009)
3.  Vitamin C
Vitamin C berfungsi sebagai antioksidan dan penting dalam metabolisme tirosin, folat, histamin, dan beberapa obat-obatan. Selain itu, vitamin C dibutuhkan untuk fungsi leukosit, respon imun, penyembuhan luka, dan reaksi alergi (Flood and Nutrition Board, 1990).
4.  Vitamin D
Vitamin D diperlukan untuk absorbsi kalsium dan fosfor dari saluran pencernaan dan mineralisasi pada tulang serta gigi ibu dan janinnya. Hampir semua vitamin D disintesis dalam kulit seiring terpaparnya kulit dengan sinar ultraviolet dari matahari (Arisman, 2004)
5.  Vitamin E
Vitamin E merupakan antioksidan yang penting bagi manusia. Vitamin E dibutuhkan untuk memelihara integritas dinding sel dan memelihara sel darah merah. Sumber makanan yang banyak mengandung vitamin E adalah margarin, biji gandum, tepung beras, dan kacang-kacangan (Walsh, 2007)
6.   Vitamin K
Vitamin K dibutuhkan dalam faktor-faktor pembekuan dan sintesis protein di dalam tulang dan ginjal. Sumber-sumber makanan yang banyak mengandung Vitamin K adalah sayuran berdaun hijau, susu, daging, dan kuning telur (Prasetyono, 2009)
7.  Zat besi
Kekurangan zat besi dalam kehamilan dapat mengakibatkan anemia, karena kebutuhan wanita hamil akan zat besi meningkat (untuk pembentukan plasenta dan sel darah merah) sebesar 200% - 300%. Rekomendasi Institute Of Medicine (IOM) terbaru untuk ibu hamil yang tidak anemi adalah 30 mg zat besi fero yang dimulai pada kehamilan minggu ke -12 (Walsh, 2007)
8.  Kalsium
Kalsium penting untuk kebutuhan kalsium ibu yang meningkat dan pembentukan tulang rangka janin dan gigi. Asupan yang di anjurkan kira-kira 1200 mg/hari bagi wanita hamil yang berusia 25 tahun dan cukup 800 mg untuk mereka yang berusia lebih muda (Arisman, 2004)
9.   Asam folat
Asam folat merupakan satu-satunya vitamin yang kebutuhannya berlipat dua selama kehamilan. Kekurangan asam folat bisa berdampak pada lahirnya bayi-bayi cacat yang sudah terbentuk sejak 2 sampai 4 minggu kehamilan. Asam folat yang tidak cukup dapat menyebabkan masalah pada tabung saraf bayi yang sedang berkembang (Prasetyono, 2009)
10.       Yodium
Kekurangan yodium selama hamil mengakibatkan janin menderita hipotiroidisme yang selanjutnya berkembang menjadi kreatinisme. Anjuran dari DEPKES RI (1996) untuk asupan yodium per hari wanita hamil dan menyusui adalah sebesar 175 µg dalam bentuk gram beryodium dan minyak beryodium (Prasetyono, 2009)

Faktor Yang Diteliti Berhubungan Paritas Dan Status Gizi Ibu
1.  Paritas
Paritas adalah jumlah anak yang pernah dilahirkan oleh ibu yang tercatat di rekam medik. Paritas paling aman ditinjau dari sudut maternal. Paritas satu dan paritas tinggi (lebih dari 3) mempunyai angka kematian maternal lebih tinggi. Lebih tinggi paritas, lebih tinggi kematian maternal. Resiko pada paritas satu dapat ditangani dengan asuhan obsetri lebih baik, sedangkan resiko pada paritas yang tinggi dapat dikurangi atau dicegah melalui keluarga berencana. Sebagian kehamilan pada paritas tinggi adalah tidak direncanakan (Winkjosastro, 2006)

2. Status Gizi Ibu
Masalah gizi pada hakikatnya adalah kesehatan masyarakat, penanggulangan tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja. Penyebab masalah gizi adalah multifactor, oleh karena itu pendekatan penanggulangan harus melibatkan berbagai sector yang terkait (Purba, 2008)



HUBUNGAN PARITAS DAN STATUS GIZI IBU DENGAN KEJADIAN
BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR)



         Angka kematian bayi (AKB) adalah banyaknya kematian bayi yang berusia dibawah satu tahun per 1000 kelahiran hidup pada satu tahun tertentu. Kematian bayi adalah yang terjadi antara saat setelah bayi lahir sampai bayi belum berusia tepat satu bulan (Jimmy, 2010)

         Menurut Worls Health Organization (WHO), AKB masih tinggi yaitu sebesar 10.000 jiwa pertahun. Tingginya AKB mencapai 35 per 1000 kelahiran hidup, AKB 58 per 1000 kelahiran hidup (Depkes RI, 2007)

         WHO telah mengganti istilah premature baby dengan low birth weight baby (Bayi dengan berat lahir rendah = BBLR) hal ini dilakukan karena tidak semua bayi dengan berat kurang dari 2500 gram pada waktu lahir bayi premature (Winkjosastro, 2006)

         Menurunkan Insiden BBLR hingga sepertiganya menjadi salah satu tujuan utama “A World Fit For Children” hingga tahun 2010 sesuai deklarasi dan rencana kerja United Nations General Assembly Special Session on Children in 2002. Lebih dari 20 juta bayi di seluruh dunia (15,5%) dari seluruh kelahiran, merupakan BBLR di Asia adalah 22% (Rahayu, 2009)

         Prevalensi BBLR diperkirakan 15% dari seluruh kelahiran di dunia dengan batasan 3,3% dan lebih sering terjadi di Negara-negara berkembang atau sosio-ekonomi rendah. Secara statistik menunjukkan 90% kejadian BBLR didapatkan di Negara-negara berkembang dan angka kematiannya 35 kali lebih tinggi dibandingkan pada bayi dengan berat lahir lebih dari 2500 gram (Dipo, 2009)

         Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat badan  kurang dari 2500 gram pada saat kelahirannya (Indrasanto dkk, 2008). BBLR merupakan bayi (neonatus) yang lahir dengan memiliki berat badan kurang dari 2500 gram atau 2499 gram (Hidayat, 2500)

         Menurut Sarwono (2006), pada tahun 1979 WHO membagi umur kehamilan dalam 3 kelompok yaitu:

1.     Preterm adalah kurang dari 37 minggu lengkap (kurang dari 259 hari)

2.    Aterm adalah mulai dari 37 minggu sampai dengan kurang dari 42 minggu lengkap (259 sampai 293 hari)

3.    Post-term adalah 42 minggu lengkap atau lebih (294 hari atau lebih)



Penyebab terjadinya BBLR

         Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran premature. Faktor ibu yang lain adalah Umur, Paritas, Pendidikan, Status Ekonomi, Status Gizi, dan Lain-lain. Faktor plasenta seperti penyakit Vaskuler, Kehamilan Kembar/Ganda, serta faktor janin juga penyebab terjadinya BBLR (Winkjosastro, 2006)

         Menurut Winkjosastro (2006), faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya BBLR adalah malnutrisi, umur ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun, jumlah anak dan jarak kehamilan yang terlalu dekat.

         Menurut Arief Zr dkk (2009), BBLR dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu:

a.     Faktor Ibu

1.     Penyakit:

a)    Toksemia Gravidarum

b)    Perdarahan Antepartum

c)    Trauma fisik dan fsikologis

d)    Nefritis Akut

e)    Diabetes Mellitus

f)    Anemia

2.    Usia Ibu:

a)    Usia < 16 tahun

b)    Usia < 35 tahun

c)    Multigravida yang jarak kelahirannya terlalu dekat

3.    Keadaan sosial ekonomi

a)    Pendidikan ibu

b)    Pekerjaan ibu

c)    Status ekonomi


b.    Faktor janin

1.     Hidramnion

2.    Kehamilan ganda

3.    Kelainan kromosom


c.     Faktor lingkungan

1.     Tempat tinggal dataran tinggi

2.    Radiasi

3.    Zat-zat racun


Gambaran Klinis

         Tampak luar dari tingkah laku bayi prematur tergantung dari tuanya umur kehamilan. Makin muda umur kehamilan makin jelas tanda-tanda immaturitas. Karakteristik untuk bayi prematur adalah berat lahir sama dengan atau kurang dari 2500 gram, panjang badan kurang atau sama dengan 45 cm, lingkaran dada kurang dari 30 cm, lingkaran kepala kurang dari 33 cm, umur kehamilan kurang dari 37 minggu (Winkjosastro, 2006)

         Kepala relatif lebih besar dari badannya, kulit tipis, transparan, lanugonya banyak, lemak subkutan kurang, sering tampak peristaltik usus. Tengisnya lemah dan jarang, pernapasan tidak teratur dan sering timbul apnea. Bila hal ini sering terjadi dan tiap serangan lebih dari 20 detik maka kemungkinan timbulnya kerusakan otak yang permanen lebih besar. Otot-otot masih hipotonik, sehingga sikap selalu dalam keadaan kedua paha dalam abduksi, sendi lutut dan pergelangan kaki dalam fleksi, kepala mengarah kesatu sisi. Reflex tonik otot leher lemah dan reflex moro positif. Gerakan otot jarang akan tetapi lebih baik dari pada bayi satu bulan, daya isap lemah, terutama pada hari-hari pertama (Sarwono, 2006)


Klasifikasi

Klasifikasi BBLR terdiri dari 2 kelompok yaitu:

a.     Klasifikasi Berdasarkan Berat Badan yaitu:

1.     Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah bayi dengan berat lahir 1500-2500 gram

2.    Bayi Berat Lahir Sangat Rendah (BBLSR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 1500 gram

3.    Bayi Berat Lahir Amat Sangat Rendah (BBLASR) adalah bayi dengan berat lahir kurang dari 1000 gram.

(Syaifuddin, 2002)

b.    Klasifikasi Berdasarkan Usia

1.     Prematuritas Murni

Prematuritas Murni adalah bayi yang lahir dengan kehamilan kurang dari 37 minggu dan mempunyai berat badan sesuai dengan masa kehamilan atau biasa disebut Neonatus Kurang Bulan Sesuai Masa Kehamilannya (NKB-SMK) dengan gambaran klinis (karakteristik) yang dijumpai:

a.     Berat lahir 2500 gram, panjang badan 45 cm, lingkar dada < 30 cm, lingkar kepala < 33 cm.

b.    Masa gestasi, 37 minggu

c.     Kepala relatif besar dari badannya

d.    Kulit tipis, transparan, tampak mengkilat dan licin

e.    Lanugonya banyak terutama pada dahi, pelipis, telinga, dan tangan

f.     Lemak subkutan kurang sehingga suhu tubuh mudah menjadi hipotermi

g.    Ubun-ubun dan sutura lebar

h.    Genitalia belum sempurna, labia miyora belum menutupi labia minora (pada perempuan), pada laki-laki testis belum turun.

i.     Pembuluh darah kulit banyak terlihat sehingga peristaltic usus dapat terlihat.

j.     Rambut tipis, halus, dan teranyam

k.     Tulang rawan dan daun telinga immature (elastisitas daun telinga masih kurang sempurna)

l.     Puting susu belum terbentuk dengan baik

m.    Pergerakan kurang dan lemah

n.    Banyak tidur, tangis lemah dan jarang, pernafasan tidak teratur dan kepala mengarah satu sisi

o.     Otot-otot masih hipotonik, sehingga sikap selalu dalam keadaan kedua paha abduksi, sendi lutut dan pergelangan kaki dalam keadaan fleksi atau lurus dan kepala mengarah kesatu sisi.

p.    Refleks tonick neck lemah

q.     Refleks menghisap dan menelan serta refleks batuk belum sempurna.

(Saifuddin, 2002)

2.    Dismaturitas

Dismaturitas adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa kehamilan. Hal ini karena mengalami gangguan pertumbuhan dalam kandungan dan merupakan bayi yang kecil untuk masa kehamilannya (KMK). Dismaturitas dapat terjadi dalam preterm, aterm, dan posterm dengan gambaran klinik/karakteristik yang dijumpai:

a.     Pre-term sama dengan bayu prematuritas murni.

b.    Aterm dan Post aterm:

-        Kulit berselubung verniks caeseosa tipis/tidak ada.

-        Kulit pucat/bernoda mekonium, kering, keriput, tipis

-        Jaringan lemak dibawah kulit tipis

-        Bayi tampak gesit, aktif dan kuat

-        Tali pusat berwarna kuning kehijauan.

(Depkes, 2002)