Sabtu, 15 September 2012




Lanjutan:
HUBUNGAN PARITAS DAN STATUS GIZI IBU DENGAN
KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR)


Diagnosa
Menurut Winkjosastro (2006), menegakkan diagnosis BBLR adalah dengan mengukur berat lahir bayi dalam jangka waktu 1 jam setelah lahir, dapat di ketahui dengan dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

Komplikasi
1.   Hipotermia
Dalam kandungan, bayi berada dalam suhu lingkungan yang normal dan stabil yaitu 360C sampai dengan 370C. Segera setelah lahir bayi dihadapkan pada suhu lingkungan yang umumnya lebih rendah. Perbedaan suhu ini member pengaruh pada kehilangan panas tubuh bayi (Winkjosastro dkk, 2006)

2.   Hiperbilirubinemia
Hiperbilirubinemia adalah naiknya kadar bilirubin serum melebihi normal (≥ 5 mg/dl). Kadar bilirubin yang tinggi disebabkan karena fungsi hati yang belum matang, BBLR menjadi kuning/ikterus lebih awal dan lebih lama dari padaup bertanya (Winkjosastro, 2006)

3.  Hipoglikemia
Hipoglikemia merupakan salah satu indicator penting stress dan penyakit pada bayi. Hipoglikemia jika tidak di tangani dapat mengakibatkan kerusakan saraf permanen atau kematian. Hipoglikemia terjadi karena sedikitnya simpanan energi pada bayi baru lahir dengan BBLR membutuhkan ASI sesegera mungkin setelah lahir dan minum sangat sering (setiap 2 jam) pada minggu pertama (Winkjosastro dkk, 2006)

4.  Masalah pemberian ASI
Masalah pemberian ASI terjadi karena ukuran tubuh BBLR kecil, kurang energi, lemah, lambungnya kecil dan tidak dapat menghisap. BBLR membutuhkan pemberian ASI dalam jumlah yang lebih sedikit tetapi sering. BBLR dengan kehamilan ≥ 35 minggu dan berat lahir ≥ 2000 gram umumnya bisa langsung menetek (Winkjosastro dkk, 2006)

5.  Masalah perdarahan
Masalah perdarahan terjadi berhubungan dengan belum matangnya sistem pembekuan darah saat lahir (dalam 6 jam pertama) untuk semua bayi baru lahir dapat mencegah kejadian perdarahan ini (Winkjosastro dkk, 2006)

Penanganan
Menurut Winkjosastro (2006), mengingat belum sempurnanya kerja alat-alat tubuh untuk pertumbuhan dan perkembangan dan penyesuaian diri dengan lingkungan hidup diluar uterus maka perlu diperhatikan pengukuran penyesuaian diri dengan lingkungan hidup diluar uterus maka perlu diperhatiakn pengukuran suhu lingkungan, pemberian makanan dan bila perlu pemberian oksigen, mencegah infeksi, serta mencegah kekurangan vitamin dan zat besi.

Status gizi ibu hamil
Status gizi adalah keadaan tingkat kecukupan dan penggunaan satu nutrien atau lebih yang mempengaruhi kesehatan seseorang. Status gizi seseorang pada hakekatnya merupakan hasil keseimbangan antara konsumsi zat-zat makanan dengan kebutuhan dari orang tersebut (Lubis, 2003)

Kebutuhan gizi selama hamil
Kebutuhan gizi wanita hamil lebih besar bila dibandingkan dengan wanita yang tidak hamil dan tidak menyusui. Kebutuhan zat gizi tersebut adalah sebagai berikut:
a.   Energi
Kebutuhan tambahan energi yang dibutuhkan selama kehamilan adalah sebesar 300 kkal per hari, namun kebutuhan energi ini tidak sama pada setiap periode kehamilan (Prasetyono, 2009)
b.   Protein
Kebutuhan tambahan protein tergantung kecepatan pertumbuhan janinnya. Trimester pertama kurang dari 6 gram tiap hari sampai trimester dia. Trimester terakhir pada waktu pertumbuhan janin sangat cepat sampai 10 gram/hari (Prasetyono, 2009)
c.   Vitamin dan Mineral
Bagi pertumbuhan janin yang baik dibutuhkan berbagai vitamin dan mineral, diantaranya adalah:
1.   Vitamin A
5 fungsi vitamin A adalah memberikan kontribusi terhadap reaksi fotokimia dalam retina. Vitamin A juga dibutuhkan dalam sintesis glikoprotein, yang mendorong pertumbuhan dan diferensiasi sel, pembentukan tunas gigi dan pertumbuhan tulang (Prasetyono, 2009)
2.   Vitamin B
Vitamin B6 (Piridoksin) adalah ko-enzim yang dibutuhkan untuk metabolisme asam amino dan glikogen. Asupan janin yang cepat terhadap vitamin B6 dan meningkatnya asupan protein dalam kehamilan mengharuskan peningkatan asupan vitamin B6 dalam kehamilan (Prasetyono, 2009)
3.  Vitamin C
Vitamin C berfungsi sebagai antioksidan dan penting dalam metabolisme tirosin, folat, histamin, dan beberapa obat-obatan. Selain itu, vitamin C dibutuhkan untuk fungsi leukosit, respon imun, penyembuhan luka, dan reaksi alergi (Flood and Nutrition Board, 1990).
4.  Vitamin D
Vitamin D diperlukan untuk absorbsi kalsium dan fosfor dari saluran pencernaan dan mineralisasi pada tulang serta gigi ibu dan janinnya. Hampir semua vitamin D disintesis dalam kulit seiring terpaparnya kulit dengan sinar ultraviolet dari matahari (Arisman, 2004)
5.  Vitamin E
Vitamin E merupakan antioksidan yang penting bagi manusia. Vitamin E dibutuhkan untuk memelihara integritas dinding sel dan memelihara sel darah merah. Sumber makanan yang banyak mengandung vitamin E adalah margarin, biji gandum, tepung beras, dan kacang-kacangan (Walsh, 2007)
6.   Vitamin K
Vitamin K dibutuhkan dalam faktor-faktor pembekuan dan sintesis protein di dalam tulang dan ginjal. Sumber-sumber makanan yang banyak mengandung Vitamin K adalah sayuran berdaun hijau, susu, daging, dan kuning telur (Prasetyono, 2009)
7.  Zat besi
Kekurangan zat besi dalam kehamilan dapat mengakibatkan anemia, karena kebutuhan wanita hamil akan zat besi meningkat (untuk pembentukan plasenta dan sel darah merah) sebesar 200% - 300%. Rekomendasi Institute Of Medicine (IOM) terbaru untuk ibu hamil yang tidak anemi adalah 30 mg zat besi fero yang dimulai pada kehamilan minggu ke -12 (Walsh, 2007)
8.  Kalsium
Kalsium penting untuk kebutuhan kalsium ibu yang meningkat dan pembentukan tulang rangka janin dan gigi. Asupan yang di anjurkan kira-kira 1200 mg/hari bagi wanita hamil yang berusia 25 tahun dan cukup 800 mg untuk mereka yang berusia lebih muda (Arisman, 2004)
9.   Asam folat
Asam folat merupakan satu-satunya vitamin yang kebutuhannya berlipat dua selama kehamilan. Kekurangan asam folat bisa berdampak pada lahirnya bayi-bayi cacat yang sudah terbentuk sejak 2 sampai 4 minggu kehamilan. Asam folat yang tidak cukup dapat menyebabkan masalah pada tabung saraf bayi yang sedang berkembang (Prasetyono, 2009)
10.       Yodium
Kekurangan yodium selama hamil mengakibatkan janin menderita hipotiroidisme yang selanjutnya berkembang menjadi kreatinisme. Anjuran dari DEPKES RI (1996) untuk asupan yodium per hari wanita hamil dan menyusui adalah sebesar 175 µg dalam bentuk gram beryodium dan minyak beryodium (Prasetyono, 2009)

Faktor Yang Diteliti Berhubungan Paritas Dan Status Gizi Ibu
1.  Paritas
Paritas adalah jumlah anak yang pernah dilahirkan oleh ibu yang tercatat di rekam medik. Paritas paling aman ditinjau dari sudut maternal. Paritas satu dan paritas tinggi (lebih dari 3) mempunyai angka kematian maternal lebih tinggi. Lebih tinggi paritas, lebih tinggi kematian maternal. Resiko pada paritas satu dapat ditangani dengan asuhan obsetri lebih baik, sedangkan resiko pada paritas yang tinggi dapat dikurangi atau dicegah melalui keluarga berencana. Sebagian kehamilan pada paritas tinggi adalah tidak direncanakan (Winkjosastro, 2006)

2. Status Gizi Ibu
Masalah gizi pada hakikatnya adalah kesehatan masyarakat, penanggulangan tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan pelayanan kesehatan saja. Penyebab masalah gizi adalah multifactor, oleh karena itu pendekatan penanggulangan harus melibatkan berbagai sector yang terkait (Purba, 2008)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar