Lanjutan:
HUBUNGAN PARITAS DAN STATUS GIZI IBU DENGAN
KEJADIAN BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR)
Diagnosa
Menurut Winkjosastro (2006), menegakkan diagnosis
BBLR adalah dengan mengukur berat lahir bayi dalam jangka waktu 1 jam setelah
lahir, dapat di ketahui dengan dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang.
Komplikasi
1.
Hipotermia
Dalam kandungan, bayi berada dalam suhu lingkungan
yang normal dan stabil yaitu 360C sampai dengan 370C. Segera
setelah lahir bayi dihadapkan pada suhu lingkungan yang umumnya lebih rendah. Perbedaan
suhu ini member pengaruh pada kehilangan panas tubuh bayi (Winkjosastro dkk,
2006)
2.
Hiperbilirubinemia
Hiperbilirubinemia adalah naiknya kadar bilirubin
serum melebihi normal (≥ 5 mg/dl). Kadar bilirubin yang tinggi disebabkan
karena fungsi hati yang belum matang, BBLR menjadi kuning/ikterus lebih awal
dan lebih lama dari padaup bertanya (Winkjosastro, 2006)
3.
Hipoglikemia
Hipoglikemia merupakan salah satu indicator penting
stress dan penyakit pada bayi. Hipoglikemia jika tidak di tangani dapat
mengakibatkan kerusakan saraf permanen atau kematian. Hipoglikemia terjadi
karena sedikitnya simpanan energi pada bayi baru lahir dengan BBLR membutuhkan
ASI sesegera mungkin setelah lahir dan minum sangat sering (setiap 2 jam) pada
minggu pertama (Winkjosastro dkk, 2006)
4.
Masalah pemberian
ASI
Masalah pemberian ASI terjadi karena ukuran tubuh
BBLR kecil, kurang energi, lemah, lambungnya kecil dan tidak dapat menghisap.
BBLR membutuhkan pemberian ASI dalam jumlah yang lebih sedikit tetapi sering.
BBLR dengan kehamilan ≥ 35 minggu dan berat lahir ≥ 2000 gram umumnya bisa
langsung menetek (Winkjosastro dkk, 2006)
5.
Masalah
perdarahan
Masalah perdarahan terjadi berhubungan dengan belum
matangnya sistem pembekuan darah saat lahir (dalam 6 jam pertama) untuk semua
bayi baru lahir dapat mencegah kejadian perdarahan ini (Winkjosastro dkk, 2006)
Penanganan
Menurut Winkjosastro (2006), mengingat belum
sempurnanya kerja alat-alat tubuh untuk pertumbuhan dan perkembangan dan
penyesuaian diri dengan lingkungan hidup diluar uterus maka perlu diperhatikan
pengukuran penyesuaian diri dengan lingkungan hidup diluar uterus maka perlu
diperhatiakn pengukuran suhu lingkungan, pemberian makanan dan bila perlu
pemberian oksigen, mencegah infeksi, serta mencegah kekurangan vitamin dan zat
besi.
Status
gizi ibu hamil
Status gizi adalah keadaan tingkat kecukupan dan
penggunaan satu nutrien atau lebih yang mempengaruhi kesehatan seseorang. Status
gizi seseorang pada hakekatnya merupakan hasil keseimbangan antara konsumsi
zat-zat makanan dengan kebutuhan dari orang tersebut (Lubis, 2003)
Kebutuhan
gizi selama hamil
Kebutuhan gizi wanita hamil lebih besar bila
dibandingkan dengan wanita yang tidak hamil dan tidak menyusui. Kebutuhan zat
gizi tersebut adalah sebagai berikut:
a.
Energi
Kebutuhan tambahan energi yang dibutuhkan selama kehamilan
adalah sebesar 300 kkal per hari, namun kebutuhan energi ini tidak sama pada
setiap periode kehamilan (Prasetyono, 2009)
b.
Protein
Kebutuhan tambahan protein tergantung kecepatan
pertumbuhan janinnya. Trimester pertama kurang dari 6 gram tiap hari sampai
trimester dia. Trimester terakhir pada waktu pertumbuhan janin sangat cepat
sampai 10 gram/hari (Prasetyono, 2009)
c.
Vitamin dan
Mineral
Bagi pertumbuhan janin yang baik dibutuhkan berbagai
vitamin dan mineral, diantaranya adalah:
1.
Vitamin A
5 fungsi vitamin
A adalah memberikan kontribusi terhadap reaksi fotokimia dalam retina. Vitamin A
juga dibutuhkan dalam sintesis glikoprotein, yang mendorong pertumbuhan dan
diferensiasi sel, pembentukan tunas gigi dan pertumbuhan tulang (Prasetyono,
2009)
2.
Vitamin B
Vitamin B6
(Piridoksin) adalah ko-enzim yang dibutuhkan untuk metabolisme asam amino dan
glikogen. Asupan janin yang cepat terhadap vitamin B6 dan meningkatnya asupan
protein dalam kehamilan mengharuskan peningkatan asupan vitamin B6 dalam
kehamilan (Prasetyono, 2009)
3.
Vitamin C
Vitamin C
berfungsi sebagai antioksidan dan penting dalam metabolisme tirosin, folat,
histamin, dan beberapa obat-obatan. Selain itu, vitamin C dibutuhkan untuk
fungsi leukosit, respon imun, penyembuhan luka, dan reaksi alergi (Flood and
Nutrition Board, 1990).
4.
Vitamin D
Vitamin D
diperlukan untuk absorbsi kalsium dan fosfor dari saluran pencernaan dan
mineralisasi pada tulang serta gigi ibu dan janinnya. Hampir semua vitamin D
disintesis dalam kulit seiring terpaparnya kulit dengan sinar ultraviolet dari
matahari (Arisman, 2004)
5.
Vitamin E
Vitamin E
merupakan antioksidan yang penting bagi manusia. Vitamin E dibutuhkan untuk
memelihara integritas dinding sel dan memelihara sel darah merah. Sumber makanan
yang banyak mengandung vitamin E adalah margarin, biji gandum, tepung beras,
dan kacang-kacangan (Walsh, 2007)
6.
Vitamin K
Vitamin K
dibutuhkan dalam faktor-faktor pembekuan dan sintesis protein di dalam tulang
dan ginjal. Sumber-sumber makanan yang banyak mengandung Vitamin K adalah
sayuran berdaun hijau, susu, daging, dan kuning telur (Prasetyono, 2009)
7.
Zat besi
Kekurangan zat
besi dalam kehamilan dapat mengakibatkan anemia, karena kebutuhan wanita hamil
akan zat besi meningkat (untuk pembentukan plasenta dan sel darah merah)
sebesar 200% - 300%. Rekomendasi Institute Of Medicine (IOM) terbaru untuk ibu
hamil yang tidak anemi adalah 30 mg zat besi fero yang dimulai pada kehamilan
minggu ke -12 (Walsh, 2007)
8.
Kalsium
Kalsium penting
untuk kebutuhan kalsium ibu yang meningkat dan pembentukan tulang rangka janin
dan gigi. Asupan yang di anjurkan kira-kira 1200 mg/hari bagi wanita hamil yang
berusia 25 tahun dan cukup 800 mg untuk mereka yang berusia lebih muda
(Arisman, 2004)
9.
Asam folat
Asam folat
merupakan satu-satunya vitamin yang kebutuhannya berlipat dua selama kehamilan.
Kekurangan asam folat bisa berdampak pada lahirnya bayi-bayi cacat yang sudah
terbentuk sejak 2 sampai 4 minggu kehamilan. Asam folat yang tidak cukup dapat
menyebabkan masalah pada tabung saraf bayi yang sedang berkembang (Prasetyono,
2009)
10.
Yodium
Kekurangan yodium
selama hamil mengakibatkan janin menderita hipotiroidisme yang selanjutnya
berkembang menjadi kreatinisme. Anjuran dari DEPKES RI (1996) untuk asupan
yodium per hari wanita hamil dan menyusui adalah sebesar 175 µg dalam bentuk
gram beryodium dan minyak beryodium (Prasetyono, 2009)
Faktor
Yang Diteliti Berhubungan Paritas Dan Status Gizi Ibu
1.
Paritas
Paritas adalah jumlah anak yang pernah dilahirkan
oleh ibu yang tercatat di rekam medik. Paritas paling aman ditinjau dari sudut
maternal. Paritas satu dan paritas tinggi (lebih dari 3) mempunyai angka
kematian maternal lebih tinggi. Lebih tinggi paritas, lebih tinggi kematian
maternal. Resiko pada paritas satu dapat ditangani dengan asuhan obsetri lebih
baik, sedangkan resiko pada paritas yang tinggi dapat dikurangi atau dicegah
melalui keluarga berencana. Sebagian kehamilan pada paritas tinggi adalah tidak
direncanakan (Winkjosastro, 2006)
2.
Status Gizi Ibu
Masalah gizi pada hakikatnya adalah kesehatan
masyarakat, penanggulangan tidak dapat dilakukan dengan pendekatan medis dan
pelayanan kesehatan saja. Penyebab masalah gizi adalah multifactor, oleh karena
itu pendekatan penanggulangan harus melibatkan berbagai sector yang terkait
(Purba, 2008)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar